Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut (Ibrani 12:28)
Di bulan ini kita kembali akan memperingati hari Jumat Agung (03.04.) dan merayakan Paskah (05.04). Paskah (Kebangkitan Tuhan Yesus) ada hubungannya dengan pengorbanan Kristus. Mari kita renungkan arti atau makna pengorbanan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya serta memahami panggilan kita untuk tetap berpegang teguh dalam menjalankan ibadah, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dengan benar. Firman Tuhan dalam Wahyu 15:4 berkata, Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu. Karena Tuhan kudus, maka sebagai orang beriman kita perlu terus dikuduskan dan disempurnakan. Keunggulan pengorbanan Kristus sebagai korban yang sempurna dapat kita baca dalam surat Ibrani 10:1-18 dan di ayat 19 dst. dijelaskan bahwa kita sekarang dapat memiliki keberanian untuk masuk ke dalam tempat kudus. Istilah tempat kudus menunjuk pada ruang maha kudus (Ibrani 6:19-20; 9:3). Ibadah dalam ruang maha kudus inilah yang dimaksudkan sebagai kehidupan ibadah dalam hadirat-Nya, di mana peranan seorang imam besar, yang dalam PB disebut sebagai penyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23), sangatlah menentukan. Dan Ibrani 10:21 membahas tentang posisi Yesus sebagai Imam Besar (bukan sekedar imam biasa) yang mengepalai Rumah Allah. Dan Rumah-Nya adalah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan (Ibrani 3:6). Dan karena Kristus telah membawa darah-Nya sendiri yang sempurna masuk ke ruang maha kudus, maka kita semua yang telah ditebus oleh kuasa darah-Nya sekarang memiliki akses langsung untuk masuk ke ruang maha kudus. Ini sangat berbeda dengan sistem pengorbanan dalam PL. Pada masa PL orang Israel tidak memiliki akses langsung ke ruang maha kudus. Mereka hanya diwakili oleh imam besar (Ibrani 9:7) dan itupun hanya dilaksanakan pada saat-saat dan kondisi tertentu saja. Itu sebabnya apa yang telah dilakukan oleh Kristus itu disebut dalam Ibrani 10:20 sebagai suatu jalan yang baru (sebelumnya belum ada) dan hidup (karena Kristus yang telah bangkit dan hidup). Jadi, jalan yang baru dan hidup ini telah dibukakan oleh Kristus melalui tirai, yaitu tubuh-Nya sendiri. Penggambaran hidup Yesus sebagai tirai merupakan sesuatu yang menarik. Dari sudut perspektif yang satu tirai ini menggambarkan adanya garis pemisah antara Allah dan manusia, tetapi dari perspektif yang lain tirai ini juga berhubungan dengan kemuliaan Allah di satu sisi dan kebutuhan manusia di sisi lain. Kristus adalah Imam Besar atas Rumah Allah. Rumah Allah di sini bukanlah bait Allah, tetapi seluruh umat-Nya (1 Kor 3:16). Sebagai imam besar Kristus telah mempersembahkan korban yang sempurna, sekali untuk selamanya, sehingga jalan yang baru dan hidup itu dapat tersedia bagi kita. Kata menghadap Allah dalam Ibrani 10:22 dalam teks Yunani hanya memakai satu kata, yaitu prosercomai, yang secara hurufiah berarti datang menuju. Tambahan kata Allah pada kata menghadap menunjuk pada ibadah (komunal) kepada Allah. Tense present yang dipakai untuk kata marilah kita menghadap Allah dalam Ibrani 10:22 menyiratkan ide terus-menerus dalam menyembah Allah. Dalam generasi di akhir zaman ini kita diajak seperti apa yang tertulis dalam Ibr. 12:28, Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Tuhan ingin supaya kita dapat terus menjadi penyembah benar yang tetap berpegang teguh dalam beribadah, berdoa, memuji dan menyembah Dia di dalam hadirat-Nya menurut cara yang berkenan kepada Dia, dengan hormat dan takut. Selamat Paskah!
Oleh Pastor Silwanus Obadja M.Th.