Pada tanggal 16-18 Oktober 2026 yang baru lalu sebagian dari keluarga besar GMI di Jerman & Belanda oleh anugerah-Nya telah dapat mengikuti acara Retreat Encounter & GMI Family Days 2026 di kota Göttingen. Iman tanpa perbuatan adalah mati merupakan tema utama dari penyelenggaraan Retreat Encounter tahun ini dan Sub-Tema kita adalah Evangelism Explotion (EE) yang disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan utusan dari GUP di Bandung, yaitu Bp. Pdt. Gideon Setiabudi dan Ibu Pdt. Siauw Ming Yen. Melalui retreat tahun ini kita telah dibekali secara rohani untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai krisis dan kegoncangan besar yang akan terus terjadi menjelang datangnya Hari Tuhan. Alkitab mengatakan, bahwa sesungguhnya kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa (Yesaya 60:2 a). Kegelapan (darkness) yang dalam bahasa aslinya disebut cho^shek, secara figurativ berarti kesusahan, kesedihan, kehancuran, kematian, ignorance (tanpa pengertian), kepedihan, kelemahan. Kekelaman (gross darkness) yang dalam bahasa aslinya disebut a?ra^phel menggambarkan keadaan yang tanpa harapan. Itulah kenyataan tentang situasi dunia menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Semakin bumi ini ditutupi oleh kegelapan dan bangsa-bangsa ditutupi oleh kekelaman, maka kita perlu semakin beriman dan berdiri teguh dalam menyelesaikan Amanat Misi dari Tuhan Yesus bagi keselamatan bangsa (-bangsa). Penyelesaian tugas misi dan penginjilan sedunia menjadi tanggung jawab semua murid-murid-Nya yang hidup di akhir zaman ini. Allah ingin kita sebagai gereja-Nya menyelesaikan tugas misi ini. Amanat dan tugas misi ini pada dasarnya hanya dapat diselesaikan oleh kasih karunia-Nya, karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata (Titus 2:11). Dan sejak zaman gereja mula-mula, Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat (Kisah Para Rasul 14:3 c). Jadi, betapa pentingnya tanda-tanda dan mujizat-mujizat-Nya dinyatakan dalam tugas misi dan penginjilan di antara bangsa-bangsa yang sedang dirundung dengan kegelapan ini. Dan merupakan tanggung jawab utama kita sebagai gereja-Nya untuk memperkenalkan kasih karunia Allah kepada mereka yang belum diselamatkan selama masih ada hari ini, yaitu selama masa anugerah ini masih ada. Dan untuk bisa memperkenalkan kasih karunia-Nya itu, maka sebagaimana yang dinasihatkan oleh para rasul kepada jemaat mula-mula, setiap jemaat-Nya harus tetap hidup di dalam kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah. Gereja yang berhasil adalah gereja yang mau selalu membawa berita tentang kasih karunia-Nya kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Itulah cara yang paling sederhana yang perlu dipraktekkan oleh setiap murid Tuhan yang rindu mengalami tanda-tanda dan mujizat-mujizat Allah dalam pelaksanaan tugas misi dan penginjilannya. Rasul Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah di tengah-tengah bangsa lain. Pengalaman ini dapat kita sebut sebagai breakthrough mission (misi terobosan). Melakukan tugas pelayanan misi dan penginjilan tanpa disertai tanda-tanda dan mujizat-mujizat akan membuat tugas penyelesaian Amanat Agung Kristus menjadi kurang relevan dan tidak efektif. Kitab-kitab Injil memberi laporan yang sangat akurat tentang bagaimana Tuhan melakukan kehendak Bapa-Nya dan juga sejarah Kisah Para Rasul melaporkan tentang bagaimana para rasul beriman dan berdiri teguh dalam melakukan Amanat Agung Kristus dengan disertai banyak tanda dan mujizat. Inilah yang membuat ledakan misi gereja mula-mula dan juga gereja di segala zaman yang dapat menjadi terang bagi bangsa (-bangsa) di mana pun kita saat ini berada. Salam misi! Amin!